Rambut yang biasanya tersisir rapi kini kusut marut, wajahnya lesi, dan matanya berpendar lemah, hampir redup. Hilang sudah keceriaan, makanan hari ini tidak enak, dan kucing makan tikus selokan.
Tujuh puluh empat menit ia menyandarkan pantatnya di pinggiran meja, menatap kosong ke singgasananya, mungkin tempat sampah. Laporan-laporan berhamburan memperlihatkan halaman-halaman terlipat bercampur kertas-kertas berserakan memenuhi meja, beberapa jatuh ke lantai. Botol tinta terbalik, kertas-kertas kerja ternoda, ia tidak menutup kembali botol tersebut.
Ia sendiri yang sampai semalam ini masih berada di kantor. Anto, Office boy, tentunya sekarang sedang menikmati istirahat di lantai paling bawah gedung berlantai empat ini. Lagian, Anto tahu bahwa ia tidak ingin diganggu, ia memang tidak bisa. Tak seorang pun boleh memasuki ruangannya tanpa izin. Sementara, tiga orang di luar gedung entah sedang jaga malam sambil menjaga gedung atau jaga gedung sambil menjaga malam, yang jelas mereka diberi imbalan sebagai makhluk malam.
“Ah… aku belum buat surat pengunduran diri,” katanya dalam hati. Ia turun dengan buru-buru hampir terjatuh, ia tetap tidak peduli. Duduk di depan komputer terbaru hadiah dari direkturnya. “Sebagai hadiah kerjamu yang gemilang,” kata bosnya bangga. “Pertama aku masuk ke kantor ini dengan baik-baik, keluarnya juga harus meninggalkan kesan yang baik.” Ia mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard, sesekali diusapnya dahi dan lehernya yang berkeringat. AC ruangan disetel pada posisi medium, tetap saja ia berkeringat. Ia teringat pada sebuah filsafat entah ia pernah mendengarnya dari siapa atau membacanya di mana bahwa gunung adalah gunung dan sungai adalah sungai, gunung bukanlah gunung dan sungai bukanlah sungai, serta gunung tetaplah gunung dan sungai tetaplah sungai. “Selesai juga.” Setelah dicetaknya, komputer tetap dibiarkan hidup. Kembali ia ke posisinya semula, lebih lambat, dan berdiri di pinggiran meja pertamanya.
Sudah delapan tahun ia bekerja, karirnya terus meroket. Dari asisten perencanaan sampai sekarang menjadi penanggung jawab proyek-proyek besar. Pernah ia ditawari untuk menjadi kepala cabang di daerah, tapi ia tolak. Ia sudah terlanjur menyukai kota tempat tinggalnya sekarang, apalagi ia punya kehidupan bersama istri dan anak tunggalnya. Teringat pada istrinya yang manis, tidak banyak menuntut dan seingatnya sejak menikah lima tahun yang lalu, tidak sekalipun ada pertengkaran. Tasha kecilnya yang selalu menyambutnya sejak ia mulai bisa berlari-lari, dan sejak anaknya itu bisa membuka pintu mobil dan selalu merengek untuk diajak berputar-putar, ia menjadi takut. “Pasti sekarang ia juga sedang menungguku, aku tidak pernah terlambat pulang tanpa pemberitahuan”. Ia ragu-ragu sejenak, turun kembali dan meraih pesawat telepon.
Menunggu beberapa saat, lalu cepat ia memberitahukan kepada istrinya bahwa ia tidak pulang. Istrinya memang baik, tidak banyak tanya, cuma mungkin sekarang istrinya kerepotan untuk membujuk Tasha.
Duduk di depan komputernya, monitor hanya dipandanginya. Wajahnya pucat. Diteguhkan hatinya, kembali ia berdiri di pinggiran meja seperti tadi, kemudian ia meloncat. Perlahan-lahan pandangannya mengabur dan akhirnya kelam sama sekali.
***
Dua orang polisi yang datang karena dihubungi oleh Anto yang curiga langsung memeriksa ruangan. Sudah pukul 10 pagi, di pintu tergantung pesan “Jangan Diganggu”. Pintu masih terkunci, dan akhirnya pintu tersebut dibuka paksa. Udara dingin dari dalam ruangan menyeruak keluar menerpa beberapa karyawan yang ingin tahu, berdesak-desakan ingin melongok ke dalam. Polisi menutup kembali pintu ruangan yang tidak dapat tertutup rapat, kuncinya harus segera diganti. Seorang dari dua polisi tersebut segera menghubungi kantornya dan yang seorang lagi setelah selesai memasang garis polisi berjaga di depan ruangan tempat kejadian. Orang-orang yang tadi mengikuti di belakang saling berbisik-bisik dengan penuh tanda tanya besar, tak seorang pun dari mereka yang sempat melihat ke dalam.
***
Pemeriksaan berjalan cepat, banyak sekali bukti yang ditinggalkan korban. Lelaki tersebut tergantung pada tengah ruangan oleh dasinya sendiri dan giginya hitam oleh tinta. Dan istrinya mengakui bahwa dasi tersebut hadiah darinya pada ulang tahun perkawinan mereka yang kelima. Dasi sutra yang kuat.
Pada layar monitor komputer yang tetap hidup, ada sebuah pesan.
Saya lahir melalui operasi caesar,
Dipaksa lahir
Saya akhiri juga dengan paksa…
Bukti lain ada di dekat mesin pencetak, sebuah surat pengunduran diri yang tidak ditandatangani. Sebuah buku agenda ditemukan di atas meja yang semrawut. Di sini beberapa catatan penting tertulis rapi, berbeda sekali kesan yang diciptakan di ruangan kerjanya sekarang. File-file komputer tersusun rapi di folder-folder tersendiri. Bukti-bukti yang ada ini membuat polisi berkesimpulan bahwa ini bukanlah kasus bunuh diri. (Bersambung)
Tujuh puluh empat menit ia menyandarkan pantatnya di pinggiran meja, menatap kosong ke singgasananya, mungkin tempat sampah. Laporan-laporan berhamburan memperlihatkan halaman-halaman terlipat bercampur kertas-kertas berserakan memenuhi meja, beberapa jatuh ke lantai. Botol tinta terbalik, kertas-kertas kerja ternoda, ia tidak menutup kembali botol tersebut.
Ia sendiri yang sampai semalam ini masih berada di kantor. Anto, Office boy, tentunya sekarang sedang menikmati istirahat di lantai paling bawah gedung berlantai empat ini. Lagian, Anto tahu bahwa ia tidak ingin diganggu, ia memang tidak bisa. Tak seorang pun boleh memasuki ruangannya tanpa izin. Sementara, tiga orang di luar gedung entah sedang jaga malam sambil menjaga gedung atau jaga gedung sambil menjaga malam, yang jelas mereka diberi imbalan sebagai makhluk malam.
“Ah… aku belum buat surat pengunduran diri,” katanya dalam hati. Ia turun dengan buru-buru hampir terjatuh, ia tetap tidak peduli. Duduk di depan komputer terbaru hadiah dari direkturnya. “Sebagai hadiah kerjamu yang gemilang,” kata bosnya bangga. “Pertama aku masuk ke kantor ini dengan baik-baik, keluarnya juga harus meninggalkan kesan yang baik.” Ia mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard, sesekali diusapnya dahi dan lehernya yang berkeringat. AC ruangan disetel pada posisi medium, tetap saja ia berkeringat. Ia teringat pada sebuah filsafat entah ia pernah mendengarnya dari siapa atau membacanya di mana bahwa gunung adalah gunung dan sungai adalah sungai, gunung bukanlah gunung dan sungai bukanlah sungai, serta gunung tetaplah gunung dan sungai tetaplah sungai. “Selesai juga.” Setelah dicetaknya, komputer tetap dibiarkan hidup. Kembali ia ke posisinya semula, lebih lambat, dan berdiri di pinggiran meja pertamanya.
Sudah delapan tahun ia bekerja, karirnya terus meroket. Dari asisten perencanaan sampai sekarang menjadi penanggung jawab proyek-proyek besar. Pernah ia ditawari untuk menjadi kepala cabang di daerah, tapi ia tolak. Ia sudah terlanjur menyukai kota tempat tinggalnya sekarang, apalagi ia punya kehidupan bersama istri dan anak tunggalnya. Teringat pada istrinya yang manis, tidak banyak menuntut dan seingatnya sejak menikah lima tahun yang lalu, tidak sekalipun ada pertengkaran. Tasha kecilnya yang selalu menyambutnya sejak ia mulai bisa berlari-lari, dan sejak anaknya itu bisa membuka pintu mobil dan selalu merengek untuk diajak berputar-putar, ia menjadi takut. “Pasti sekarang ia juga sedang menungguku, aku tidak pernah terlambat pulang tanpa pemberitahuan”. Ia ragu-ragu sejenak, turun kembali dan meraih pesawat telepon.
Menunggu beberapa saat, lalu cepat ia memberitahukan kepada istrinya bahwa ia tidak pulang. Istrinya memang baik, tidak banyak tanya, cuma mungkin sekarang istrinya kerepotan untuk membujuk Tasha.
Duduk di depan komputernya, monitor hanya dipandanginya. Wajahnya pucat. Diteguhkan hatinya, kembali ia berdiri di pinggiran meja seperti tadi, kemudian ia meloncat. Perlahan-lahan pandangannya mengabur dan akhirnya kelam sama sekali.
***
Dua orang polisi yang datang karena dihubungi oleh Anto yang curiga langsung memeriksa ruangan. Sudah pukul 10 pagi, di pintu tergantung pesan “Jangan Diganggu”. Pintu masih terkunci, dan akhirnya pintu tersebut dibuka paksa. Udara dingin dari dalam ruangan menyeruak keluar menerpa beberapa karyawan yang ingin tahu, berdesak-desakan ingin melongok ke dalam. Polisi menutup kembali pintu ruangan yang tidak dapat tertutup rapat, kuncinya harus segera diganti. Seorang dari dua polisi tersebut segera menghubungi kantornya dan yang seorang lagi setelah selesai memasang garis polisi berjaga di depan ruangan tempat kejadian. Orang-orang yang tadi mengikuti di belakang saling berbisik-bisik dengan penuh tanda tanya besar, tak seorang pun dari mereka yang sempat melihat ke dalam.
***
Pemeriksaan berjalan cepat, banyak sekali bukti yang ditinggalkan korban. Lelaki tersebut tergantung pada tengah ruangan oleh dasinya sendiri dan giginya hitam oleh tinta. Dan istrinya mengakui bahwa dasi tersebut hadiah darinya pada ulang tahun perkawinan mereka yang kelima. Dasi sutra yang kuat.
Pada layar monitor komputer yang tetap hidup, ada sebuah pesan.
Saya lahir melalui operasi caesar,
Dipaksa lahir
Saya akhiri juga dengan paksa…
Bukti lain ada di dekat mesin pencetak, sebuah surat pengunduran diri yang tidak ditandatangani. Sebuah buku agenda ditemukan di atas meja yang semrawut. Di sini beberapa catatan penting tertulis rapi, berbeda sekali kesan yang diciptakan di ruangan kerjanya sekarang. File-file komputer tersusun rapi di folder-folder tersendiri. Bukti-bukti yang ada ini membuat polisi berkesimpulan bahwa ini bukanlah kasus bunuh diri. (Bersambung)

