Kerok

Tiba di tempat tujuan, kami disambut oleh sumringah kotoran sapi, padahal ini kantor, setidak-tidaknya base camp-lah (atau apapun istilahnya). “Ada apa ini? ataukah ini sebuah kearifan?” Masih banyak lagi pertanyaan yang entah harus ditujukan kepada siapa. Sel-sel lunak dalam kepalaku berdenyut-denyut, bukan memikirkan kotoran tadi, juga bukan karena kelakukan pemilik kantor yang langsung menarik selang air dan membersihkan tempat tersebut, seolah meminta maaf kepada kami, tetapi karena jet lag dan perubahan suhu yang drastis.
Kami tetap tenang dan pura-pura tidak melihat apa yang sedang terjadi, tapi bukan untuk memaklumi keadaan tersebut. Papan nama kantor tersebut sangat bagus, meski namanya belum diganti dengan nama yang baru, karena menurut keterangan pegawainya nama kantor tersebut sudah berubah, harap dimaklumi, di negeri ini setiap pergantian pemimpin nama instansi pemerintahan juga berubah.
Aliran darah dalam tubuh ini berusaha keras menyesuaikan panas dengan lingkungan baru yang tidak biasa, seperti dalam ruangan ber-AC yang dipasang minimum pada malam hari. Sebenarnya wajar saja untuk daerah yang 800-an meter dari permukaan laut, apalagi di sini daerah perbukitan dan kami tepat berada di lembahnya.
Inilah yang menjadi salah satu alasanku untuk tidak mandi sore hari ini, dan aku berseloroh membela diri, “Sia-sia dong perjuanganku untuk tidak mandi pagi tadi,” dan dengan kata lain “buat apa mandi hari ini kalau besok masih mau mandi, tapi makanlah hari ini karena besok belum tentu bisa makan.” (Kawan-kawan jang muak mendengarnya, yah).
Malam harinya meski perut keroncongan minta diisi, kami tetap semangat briffing dan menyusun rencana baru untuk menyesuaikan keadaan di sini yang tidak sesuai dengan gambaran kami sebelumnya. Pada awalnya telah kami perkirakan segala kemungkinan di lapangan, tapi hampir semuanya meleset dari dugaan. Meski akhirnya rencana baru pun telah disepakati, semuanya siap melaksanakan tugas untuk mencapai target. Semoga. Scenario telah ada, setting telah ditetapkan, sutradarapun telah menyiapkan siapa aktornya dan siapa yang menjadi figuran.
***
Malam ini aku tidak bisa tidur, aku berpikir. Ada dua hal yang menjadi catatanku berdasarkan obrolan dengan masyarakat sekitar siang hari tadi. Pertama, tuan rumah merupakan tokoh yang berpengaruh dan heroistic yang telah berhasil memimpin penangkapan gajah liar pengganggu kegiatan perladangan masyarakat beberapa tahun yang lalu dan program reboisasinya lebih berhasil dari program serupa yang ditangani oleh sebuah perusahaan, setidaknya demikian pandangan kami (mungkin ini yang ia inginkan). Kedua, kesan yang kutangkap, entah kalau kawan-kawan, kami diarahkan untuk mengikuti settingnya, “lho, siapa sutradaranya?” padahal di lapangan adalah tanggung jawab kami, “ada apa ini?”
***
Sosialisasi pun dimulai. Pro dan kontra merupakan hal yang lumrah di kalangan masyarakat, apalagi bagi pendatang. Kami, meskipun cuma berperan sebagai penengah dan fasilitator yang ingin mengetahui isu di daerah ini dan diharapkan dapat membantu memecahkan masalahnya, dianggap sebagai persekongkolan. Ini juga lumrah mengingat atribut yang kami kenakan. Repot, memang. Ketakutan-ketakutan dan trauma masa lalu membuat masyarakat menutup diri.
Besok, kami akan terjun langsung di daerah-daerah terpencil di lereng bukit-bukit tempat perladangan masyarakat. Kami akan berbaur dan merasakan seperti apa berladang dalam kecemasan-kecemasan dan ketakutan akan terusir. Sebelum masuk ke daerah ini kami memang sudah tahu bahwa banyak kegiatan perladangan – yang kata ‘mereka’ perambah hutan – dalam kawasan konservasi, juga ‘mereka’ menambahkan bahwa bila ini dibiarkan akan berdampak pada masyarakat hilir.
Dualisme yang kami perankan membuat kerok, kata orang Palembang. Di satu sisi, idealisme kami yang ingin membantu memecahkan masalah sedangkan di sisi lain kami harus mengakui pemilik-pemilik kepentingan kawasan ini.
Kecurangan-kecurangan pemilik kepentingan pada akhirnya akan kami ketahui. “Segala kebijakan yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat adalah tahi kucing.” Kata kawanku pada suatu ketika begitu mengetahui kebijakan-kebijakan yang tidak memihak di masyarakat. Ini juga lumrah, bahwa setiap kebijakan akan menguntungkan segelintir orang dan merugikan banyak orang.
Kami tetap saja menjalankan tugas, meski kesulitan menempatkan posisi kami di masyarakat. Dengan pendekatan lorong, kalau boleh menggunakan istilah ini. (Contoh sederhana dalam pendekatan ini adalah kalau mau tahu mengapa ada yang mau menjadi preman, kita harus bergaul dengan preman). Yang kami terapkan lambat laun membuat masyarakat mulai membuka kebusukan-kebusukan yang ada. Ini tidak salah, sistemlah yang menciptakan pandangan demikian.
Semuanya berjalan cepat, potongan-potongan gambar bergantian merangkai cerita. Ingatan-ingatan yang tak dapat dibuktikan berhamburan keluar. Aku tersedak dalam keterpanaan. Semuanya telah berakhir. Ini adalah sebuah takdir, kami tak dapat merubahnya. Kami hanya berbagi pengalaman dalam kebohongan. Aku tersadar.
***
0 Responses