Perempuan

Perempuan itu menyilangkan tangan di dada
Ia memandangku, tapi tak melihatku
Matanya melihat api, kukira…
Tak lama menganak sungai

Kualihkan pandanganku ke luar jendela, gelap…, yang terlihat kembali perempuan itu dalam bayang-bayang cermin yang buram dan retak bekas benturan benda keras. Kusulut rokok yang lama terselip di antara jari telunjuk dan tengah tangan kiriku dengan korek gas. Kuhisap dalam asap tembakau melalui filter yang kupikir takkan tersaring nicotinenya, lama kutahan, kemudian kuhembuskan perlahan sebagian melalui hidung dan sebagian tetap tertahan dalam paru-paruku.

Ah.. perempuan itu, tak dapat kupungkiri ada daya tarik yang sungguh membuatku serba salah. Kuperbaiki dudukku, kulonjorkan kakiku, padahal baru setengah menit posisi dudukku tersebut. Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Hmmm, aku terkejut, tak sengaja aku menarik napas panjang. Sambil memperpaiki kembali dudukku, kumatikan dan kubuang puntung rokokku yang masih panjang. Di sebelahku lelaki tua yang mukanya ditutupi dengan peci hitam telah lama tertidur pulas. Ada senyum damai di tarikan bibirnya, beda sekali , tentu saja dengan perempuan itu, hah?.. Aku mencoba untuk tidur, kupejamkan mata meski tahu aku tak dapat tidur dengan posisi duduk seperti ini.

Aku membuka kembali mataku, dan kulihat perempuan tersebut menatapku. Kucoba tersenyum, tetapi perempuan tersebut tidak membalas senyumku. Aku tersadar, perempuan tersebut bukan menatapku, tatapan matanya kosong, perempuan tersebut menatap masa lalunya. Aku coba mereka-reka apa yang dilamunkan perempuan itu, tak berhasil, karena aku bukan cenayang. Dan setengah keyakinanku berkata, bahwa aku telah terhipnotis oleh perempuan itu.

0 Responses