Tuan Glockner dan Kucingnya

“Tahukah kau kucing Glockner?”
“Bukankah kucing belang hitam dan putih yang berumur 3 tahun tersebut milik Tuan Glockner?”
“Kalau yang itu kucing biasa, tapi ini kucing Glockner.”
“Aku mendengarkan.”
“Nah, kucing ini, jenis Glockner, dahulu tidak di seluruh dunia mengetahuinya.”
“Apakah sekarang di seluruh dunia orang mengetahuinya? Mengapa aku tidak tahu?”
“Maksud saya, kecuali orang-orang bodoh sepertimu.”
“Terima kasih, aku tidak berminat lagi mendengarkan. Tolong ganti topiknya.”
“Nah, kemarin kucing itu muncul.”
“Mengapa aku mesti mendengarnya?”
“Karena, kucing tersebut bangkit kembali.”
“Memangnya ia telah mati?”
“Listen to me! Just listen, ok!”
“Aku ada kuliah.”
“Please, just a minute…”
“Nanti saja. Kau tahu, Profesor Wayne tidak mengizinkan aku mengikuti kuliahnya, jika aku terlambat 5 detik saja.”
“Please…?!”
***
(Bersambung)

Salah Dosis

Seorang bule dari Inggris yang bekerja di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pergi ke apotik untuk menebus obat yang diberikan oleh dokter yang juga bekerja di kedutaan tersebut. Obat tersebut penting bagi dirinya untuk mengurangi alergi yang dideritanya. Dosis yang diberikan dokternya adalah 1 ounce (ons) untuk setiap kali minum setiap hari berupa obat serbuk. Dokter memberinya untuk 3 hari dan bila dalam 3 hari belum menunjukkan hasil, maka ia akan diberikan obat lain. Oleh sebuah apotik yang buka 24 jam di Jakarta Pusat, obat tersebut telah dipisahkan menjadi 3 kantong dengan berat masing-masing 1 ons. Baru sekali meminum obat tersebut, si bule dilarikan ke rumah sakit karena keracunan obat. Setelah diselidiki ternyata apoteker salah memberikan dosis obat pada setiap kantong. Pada 2 kantong yang tersisa setelah ditimbang ternyata beratnya masing-masing kantong adalah 100 gram. Akibatnya apoteker tersebut diharuskan membayar denda sebesar seratus juta rupiah, karena membahayakan nyawa seseorang. (Sebuah Ilustrasi).

Mengapa si apoteker disalahkan, bukankah ia memberikan dosis yang benar untuk setiap kantongnya berdasarkan resep dokter? MENGAPA?

Semua orang mempertanyakan hal yang sama, dan jawabannya sangat sederhana. Si Apoteker tidak tahu, bahkan mungkin kita semua juga tidak tahu dan tidak menyadari, bahwa ternyata dasar konversi berat dari ounce (ons) ke gram yang kita tahu selama ini salah. Coba saya tanyakan kepada anda, ada berapa gram dalam 1 ons? Mudah-mudahan tidak semua yang membaca tulisan ini menjawab 100 gram. Karena berdasarkan standar internasional, 1 ounce (ons) sama dengan 28,3495 gram. Anda tidak percaya? Buktikan! Bagi anda yang punya ponsel dengan fasilitas converter (konversi) dapat membuktikan sendiri ternyata 1 ons bukan 100 gram. Dari ilustrasi di atas, wajar saja kalau si apoteker disalahkan, karena dosis yang diberikannya hampir empat kali dosis seharusnya.

Kalau sudah begini, siapakah yang harus disalahkan? Menteri Dikjar-kah? Guru-kah? Atau para murid?

Kaca Meja yang Retak

Rambut yang biasanya tersisir rapi kini kusut marut, wajahnya lesi, dan matanya berpendar lemah, hampir redup. Hilang sudah keceriaan, makanan hari ini tidak enak, dan kucing makan tikus selokan.
Tujuh puluh empat menit ia menyandarkan pantatnya di pinggiran meja, menatap kosong ke singgasananya, mungkin tempat sampah. Laporan-laporan berhamburan memperlihatkan halaman-halaman terlipat bercampur kertas-kertas berserakan memenuhi meja, beberapa jatuh ke lantai. Botol tinta terbalik, kertas-kertas kerja ternoda, ia tidak menutup kembali botol tersebut.
Ia sendiri yang sampai semalam ini masih berada di kantor. Anto, Office boy, tentunya sekarang sedang menikmati istirahat di lantai paling bawah gedung berlantai empat ini. Lagian, Anto tahu bahwa ia tidak ingin diganggu, ia memang tidak bisa. Tak seorang pun boleh memasuki ruangannya tanpa izin. Sementara, tiga orang di luar gedung entah sedang jaga malam sambil menjaga gedung atau jaga gedung sambil menjaga malam, yang jelas mereka diberi imbalan sebagai makhluk malam.
“Ah… aku belum buat surat pengunduran diri,” katanya dalam hati. Ia turun dengan buru-buru hampir terjatuh, ia tetap tidak peduli. Duduk di depan komputer terbaru hadiah dari direkturnya. “Sebagai hadiah kerjamu yang gemilang,” kata bosnya bangga. “Pertama aku masuk ke kantor ini dengan baik-baik, keluarnya juga harus meninggalkan kesan yang baik.” Ia mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard, sesekali diusapnya dahi dan lehernya yang berkeringat. AC ruangan disetel pada posisi medium, tetap saja ia berkeringat. Ia teringat pada sebuah filsafat entah ia pernah mendengarnya dari siapa atau membacanya di mana bahwa gunung adalah gunung dan sungai adalah sungai, gunung bukanlah gunung dan sungai bukanlah sungai, serta gunung tetaplah gunung dan sungai tetaplah sungai. “Selesai juga.” Setelah dicetaknya, komputer tetap dibiarkan hidup. Kembali ia ke posisinya semula, lebih lambat, dan berdiri di pinggiran meja pertamanya.
Sudah delapan tahun ia bekerja, karirnya terus meroket. Dari asisten perencanaan sampai sekarang menjadi penanggung jawab proyek-proyek besar. Pernah ia ditawari untuk menjadi kepala cabang di daerah, tapi ia tolak. Ia sudah terlanjur menyukai kota tempat tinggalnya sekarang, apalagi ia punya kehidupan bersama istri dan anak tunggalnya. Teringat pada istrinya yang manis, tidak banyak menuntut dan seingatnya sejak menikah lima tahun yang lalu, tidak sekalipun ada pertengkaran. Tasha kecilnya yang selalu menyambutnya sejak ia mulai bisa berlari-lari, dan sejak anaknya itu bisa membuka pintu mobil dan selalu merengek untuk diajak berputar-putar, ia menjadi takut. “Pasti sekarang ia juga sedang menungguku, aku tidak pernah terlambat pulang tanpa pemberitahuan”. Ia ragu-ragu sejenak, turun kembali dan meraih pesawat telepon.
Menunggu beberapa saat, lalu cepat ia memberitahukan kepada istrinya bahwa ia tidak pulang. Istrinya memang baik, tidak banyak tanya, cuma mungkin sekarang istrinya kerepotan untuk membujuk Tasha.
Duduk di depan komputernya, monitor hanya dipandanginya. Wajahnya pucat. Diteguhkan hatinya, kembali ia berdiri di pinggiran meja seperti tadi, kemudian ia meloncat. Perlahan-lahan pandangannya mengabur dan akhirnya kelam sama sekali.
***
Dua orang polisi yang datang karena dihubungi oleh Anto yang curiga langsung memeriksa ruangan. Sudah pukul 10 pagi, di pintu tergantung pesan “Jangan Diganggu”. Pintu masih terkunci, dan akhirnya pintu tersebut dibuka paksa. Udara dingin dari dalam ruangan menyeruak keluar menerpa beberapa karyawan yang ingin tahu, berdesak-desakan ingin melongok ke dalam. Polisi menutup kembali pintu ruangan yang tidak dapat tertutup rapat, kuncinya harus segera diganti. Seorang dari dua polisi tersebut segera menghubungi kantornya dan yang seorang lagi setelah selesai memasang garis polisi berjaga di depan ruangan tempat kejadian. Orang-orang yang tadi mengikuti di belakang saling berbisik-bisik dengan penuh tanda tanya besar, tak seorang pun dari mereka yang sempat melihat ke dalam.
***
Pemeriksaan berjalan cepat, banyak sekali bukti yang ditinggalkan korban. Lelaki tersebut tergantung pada tengah ruangan oleh dasinya sendiri dan giginya hitam oleh tinta. Dan istrinya mengakui bahwa dasi tersebut hadiah darinya pada ulang tahun perkawinan mereka yang kelima. Dasi sutra yang kuat.
Pada layar monitor komputer yang tetap hidup, ada sebuah pesan.
Saya lahir melalui operasi caesar,
Dipaksa lahir
Saya akhiri juga dengan paksa…
Bukti lain ada di dekat mesin pencetak, sebuah surat pengunduran diri yang tidak ditandatangani. Sebuah buku agenda ditemukan di atas meja yang semrawut. Di sini beberapa catatan penting tertulis rapi, berbeda sekali kesan yang diciptakan di ruangan kerjanya sekarang. File-file komputer tersusun rapi di folder-folder tersendiri. Bukti-bukti yang ada ini membuat polisi berkesimpulan bahwa ini bukanlah kasus bunuh diri. (Bersambung)

Akhirnya

Melegakan, setelah sekian waktu terkungkung dalam ketakutan dan kecemasan, hari ini aku merasa bebas. Kuhirup wangi udara pertamaku dan kuhembuskan perlahan. Kudengar indah suara alamku dan kurekam dalam ingatan, rela kunikmati klakson mobil, teriakan anak-anak hendak ke sekolah, pertengkaran tetangga yang tidak kebagian air bersih, gerutuan Emak yang tidak menyelesaikan masalah lagi mengisi keseharianku; “Mak, harga BBM dan gas boleh naik, juga tagihan listrik, air dan telepon, asal Emak tak ikut-ikutan naik darah”. Semua ini akan kunikmati, terus, terus, dan terus…

***

17 Juli 2000, pagi, 56 hari sebelum hari ini, aku bolos kuliah, bukan suatu kesengajaan. Matahari belum lagi menampakkan hidungnya, aku dikejutkan oleh dering telepon, andai aku tidak mengangkatnya. Tapi, aku mudah terbangun meski oleh kepak sayap nyamuk. Aku tidak berani mengingat isi pembicaraan itu sebelum hari ini, pelecehan, dan aku tidak dapat menerimanya. Ia telah memperkosa kupingku dan membuat pendarahan di otakku. Aku menjadi tuli (dan gagu). Aku benci deringan, weker kamar pun kusingkirkan. Aku menjadi manusia yang paling tolol, tidak respon pada lingkungan bahkan pada nyamuk yang menghisap darahku dan setelah ia kenyang baru aku menyadarinya. Keadaanku sungguh tidak menyenangkan, tidak nafsu makan, sulit tidur dan kalau pun aku tertidur selalu mimpi buruk, melamun dan selalu mengurung diri di kamar. Andaikan saja Alexander Graham Bell tak pernah dilahirkan, andai saja tidak terjadi revolusi industri. Dan aku sungguh membenci teknologi analog, juga digital.
Kawan-kawan tidak banyak membantu, meski telah mencoba menghiburku dengan kelakarnya yang menurutku tidak lucu. Pun mereka tertawa terbahak-bahak karenanya, kuharap mereka tidak mentertawakanku. Sebulan lebih aku berdiam diri. Teror demi teror kudapat, bahkan ibu, ayah dan saudara-saudaraku tidak mau mengerti, tetap menerima telpon untukku. Aku sungguh muak.
Siapa yang begitu tega menyakitiku, apa dia tidak tahu bahwa aku merasa sakit dengan tindakannya tersebut?

***

Siklus

Rembulan memang telah menggantikan mentari yang angkuh
Tapi sinarnya tidak sekuat sang mentari,
Tak dapat menghangatkan hati yang beku

Siapa yang salah, heh?

Kerok

Tiba di tempat tujuan, kami disambut oleh sumringah kotoran sapi, padahal ini kantor, setidak-tidaknya base camp-lah (atau apapun istilahnya). “Ada apa ini? ataukah ini sebuah kearifan?” Masih banyak lagi pertanyaan yang entah harus ditujukan kepada siapa. Sel-sel lunak dalam kepalaku berdenyut-denyut, bukan memikirkan kotoran tadi, juga bukan karena kelakukan pemilik kantor yang langsung menarik selang air dan membersihkan tempat tersebut, seolah meminta maaf kepada kami, tetapi karena jet lag dan perubahan suhu yang drastis.
Kami tetap tenang dan pura-pura tidak melihat apa yang sedang terjadi, tapi bukan untuk memaklumi keadaan tersebut. Papan nama kantor tersebut sangat bagus, meski namanya belum diganti dengan nama yang baru, karena menurut keterangan pegawainya nama kantor tersebut sudah berubah, harap dimaklumi, di negeri ini setiap pergantian pemimpin nama instansi pemerintahan juga berubah.
Aliran darah dalam tubuh ini berusaha keras menyesuaikan panas dengan lingkungan baru yang tidak biasa, seperti dalam ruangan ber-AC yang dipasang minimum pada malam hari. Sebenarnya wajar saja untuk daerah yang 800-an meter dari permukaan laut, apalagi di sini daerah perbukitan dan kami tepat berada di lembahnya.
Inilah yang menjadi salah satu alasanku untuk tidak mandi sore hari ini, dan aku berseloroh membela diri, “Sia-sia dong perjuanganku untuk tidak mandi pagi tadi,” dan dengan kata lain “buat apa mandi hari ini kalau besok masih mau mandi, tapi makanlah hari ini karena besok belum tentu bisa makan.” (Kawan-kawan jang muak mendengarnya, yah).
Malam harinya meski perut keroncongan minta diisi, kami tetap semangat briffing dan menyusun rencana baru untuk menyesuaikan keadaan di sini yang tidak sesuai dengan gambaran kami sebelumnya. Pada awalnya telah kami perkirakan segala kemungkinan di lapangan, tapi hampir semuanya meleset dari dugaan. Meski akhirnya rencana baru pun telah disepakati, semuanya siap melaksanakan tugas untuk mencapai target. Semoga. Scenario telah ada, setting telah ditetapkan, sutradarapun telah menyiapkan siapa aktornya dan siapa yang menjadi figuran.
***
Malam ini aku tidak bisa tidur, aku berpikir. Ada dua hal yang menjadi catatanku berdasarkan obrolan dengan masyarakat sekitar siang hari tadi. Pertama, tuan rumah merupakan tokoh yang berpengaruh dan heroistic yang telah berhasil memimpin penangkapan gajah liar pengganggu kegiatan perladangan masyarakat beberapa tahun yang lalu dan program reboisasinya lebih berhasil dari program serupa yang ditangani oleh sebuah perusahaan, setidaknya demikian pandangan kami (mungkin ini yang ia inginkan). Kedua, kesan yang kutangkap, entah kalau kawan-kawan, kami diarahkan untuk mengikuti settingnya, “lho, siapa sutradaranya?” padahal di lapangan adalah tanggung jawab kami, “ada apa ini?”
***
Sosialisasi pun dimulai. Pro dan kontra merupakan hal yang lumrah di kalangan masyarakat, apalagi bagi pendatang. Kami, meskipun cuma berperan sebagai penengah dan fasilitator yang ingin mengetahui isu di daerah ini dan diharapkan dapat membantu memecahkan masalahnya, dianggap sebagai persekongkolan. Ini juga lumrah mengingat atribut yang kami kenakan. Repot, memang. Ketakutan-ketakutan dan trauma masa lalu membuat masyarakat menutup diri.
Besok, kami akan terjun langsung di daerah-daerah terpencil di lereng bukit-bukit tempat perladangan masyarakat. Kami akan berbaur dan merasakan seperti apa berladang dalam kecemasan-kecemasan dan ketakutan akan terusir. Sebelum masuk ke daerah ini kami memang sudah tahu bahwa banyak kegiatan perladangan – yang kata ‘mereka’ perambah hutan – dalam kawasan konservasi, juga ‘mereka’ menambahkan bahwa bila ini dibiarkan akan berdampak pada masyarakat hilir.
Dualisme yang kami perankan membuat kerok, kata orang Palembang. Di satu sisi, idealisme kami yang ingin membantu memecahkan masalah sedangkan di sisi lain kami harus mengakui pemilik-pemilik kepentingan kawasan ini.
Kecurangan-kecurangan pemilik kepentingan pada akhirnya akan kami ketahui. “Segala kebijakan yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat adalah tahi kucing.” Kata kawanku pada suatu ketika begitu mengetahui kebijakan-kebijakan yang tidak memihak di masyarakat. Ini juga lumrah, bahwa setiap kebijakan akan menguntungkan segelintir orang dan merugikan banyak orang.
Kami tetap saja menjalankan tugas, meski kesulitan menempatkan posisi kami di masyarakat. Dengan pendekatan lorong, kalau boleh menggunakan istilah ini. (Contoh sederhana dalam pendekatan ini adalah kalau mau tahu mengapa ada yang mau menjadi preman, kita harus bergaul dengan preman). Yang kami terapkan lambat laun membuat masyarakat mulai membuka kebusukan-kebusukan yang ada. Ini tidak salah, sistemlah yang menciptakan pandangan demikian.
Semuanya berjalan cepat, potongan-potongan gambar bergantian merangkai cerita. Ingatan-ingatan yang tak dapat dibuktikan berhamburan keluar. Aku tersedak dalam keterpanaan. Semuanya telah berakhir. Ini adalah sebuah takdir, kami tak dapat merubahnya. Kami hanya berbagi pengalaman dalam kebohongan. Aku tersadar.
***

Berdiri di Ujung Dunia Menatap Ujung Dunia yang Lain

Tegak lurus dengan bumi, menghadap kemanapun kamu akan melihat punggungmu sendiri. Kucoba mencerna maksudnya. Bumi yang bulat seperti bola, – tidak benar-benar rata, di beberapa bagian terdapat cerukan dan tonjolan – bila dibelah berdasarkan garis lintang di nol derajat dan diratakan di atas sebuah meja yang lebih besar dari dua per tiga kali dua puluh dua pertujuh dikalikan kubik setengah dari diameter bumi dan aku yang setinggi setengah dari diameter bumi berdiri di ujung satunya. Hipotesaku benar, aku menjadi dua, aku yang satu berdiri membelakangi aku yang kedua, aku yang kedua dapat melihat punggung aku pertama. Kuulangi lagi eksperimenku, dan kini aku membelah bumi berdasarkan garis bujur, fenomena yang sama kuperoleh. Kucoba dan terus kucoba merotasi berdasarkan degree, sudah pasti aku mengulangi pekerjaan dan hasil yang sama. Sialan…! (Maaf, seharusnya aku dapat C untuk Bahasa Indonesia).
Pempek panggang, pisang goreng, dan semua teori ekonomi yang menjemukan menjejali telingaku, tak ada satupun yang kuingat mengapa. Waktu itu dengan koin 50-an sudah dapat berbicara selama 3 menit, tapi sekarang untuk 1 menit harus menghabiskan selembar ribuan, itupun kalau operatornya sama. Aidah…! (Mungkin, D lebih pantas untuk Bahasa Indonesia-ku).
Teori relativitas, mempengaruhi pemikiran, bahwa di suatu tempat kita menjalani hidup yang sama, dengan takdir yang sama (baca: Einstein Dreams), entah mengapa? Kadang-kadang aku ingin mencari jawabannya, dan kadang-kadang juga aku muak. (Ini realita, man! Lebih baik baca buku Robert T. Kiyosaki dan mungkin bermanfaat).
Pernahkah kau sadari, bahwa sebenarnya hidup ini adalah keseimbangan? Ingat waktu kita belajar persamaan matematika, bahwa fungsi persamaan matematika tersebut adalah untuk menyamakan yang kiri dengan yang kanan, dan kalau kiri belum sama dengan kanan, maka yang kanan harus kita tambah dengan kesalahan penghitungan.
Dan hukum keseimbangan ini terganggu. Rekayasa genetik yang bertujuan untuk penyempurnaan, kadang menjadi bumerang bagi kesempurnaan itu sendiri, makhluk-makhluk baru bermunculan menguji kemampuan pemikiran. Terorisme dan segala taik kucing menjadi alasan untuk pemusnahan peradaban.
Padahal ada yang lebih urgent dari sekedar teori-teori ekonomi, fisika, matematika, ataupun biologi. Aku ingin mengungkapkan perasaanku yang sederhana. Dengan dua lembar ribuan ini, menekan numpad telepon di wartel. Atau berjalan 5 menit, menyeberang, dan dengan tambahan 25 menit aku akan mengetuk pintu rumahmu, say hello, dan pulang, sesederhana itukah?
TIDAK, tetapi… aku berharap bagimu ini bukan suatu kerumitan, aku berharap ini menjadi simpel bukan benang kusut.
Aku dilahirkan dengan ketidak-sempurnaan, dididik secara tidak sempurna, dan kujalani hidupku dengan tidak sempurna, seandainya kau suka dengan orang yang tidak sempurna, maka datanglah padaku, aku akan mencintaimu dengan tidak sempurna dan kau dapat membuatnya menjadi sempurna.

This is the Truth Place, Not for Liar

Sekali berbohong akan diikuti dengan kebohongan yang lain.

Perempuan

Perempuan itu menyilangkan tangan di dada
Ia memandangku, tapi tak melihatku
Matanya melihat api, kukira…
Tak lama menganak sungai

Kualihkan pandanganku ke luar jendela, gelap…, yang terlihat kembali perempuan itu dalam bayang-bayang cermin yang buram dan retak bekas benturan benda keras. Kusulut rokok yang lama terselip di antara jari telunjuk dan tengah tangan kiriku dengan korek gas. Kuhisap dalam asap tembakau melalui filter yang kupikir takkan tersaring nicotinenya, lama kutahan, kemudian kuhembuskan perlahan sebagian melalui hidung dan sebagian tetap tertahan dalam paru-paruku.

Ah.. perempuan itu, tak dapat kupungkiri ada daya tarik yang sungguh membuatku serba salah. Kuperbaiki dudukku, kulonjorkan kakiku, padahal baru setengah menit posisi dudukku tersebut. Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Hmmm, aku terkejut, tak sengaja aku menarik napas panjang. Sambil memperpaiki kembali dudukku, kumatikan dan kubuang puntung rokokku yang masih panjang. Di sebelahku lelaki tua yang mukanya ditutupi dengan peci hitam telah lama tertidur pulas. Ada senyum damai di tarikan bibirnya, beda sekali , tentu saja dengan perempuan itu, hah?.. Aku mencoba untuk tidur, kupejamkan mata meski tahu aku tak dapat tidur dengan posisi duduk seperti ini.

Aku membuka kembali mataku, dan kulihat perempuan tersebut menatapku. Kucoba tersenyum, tetapi perempuan tersebut tidak membalas senyumku. Aku tersadar, perempuan tersebut bukan menatapku, tatapan matanya kosong, perempuan tersebut menatap masa lalunya. Aku coba mereka-reka apa yang dilamunkan perempuan itu, tak berhasil, karena aku bukan cenayang. Dan setengah keyakinanku berkata, bahwa aku telah terhipnotis oleh perempuan itu.

Canna


Canna edulis sp.

Jadi teringat waktu belajar di Fakultas Pertanian dulu.