Melegakan, setelah sekian waktu terkungkung dalam ketakutan dan kecemasan, hari ini aku merasa bebas. Kuhirup wangi udara pertamaku dan kuhembuskan perlahan. Kudengar indah suara alamku dan kurekam dalam ingatan, rela kunikmati klakson mobil, teriakan anak-anak hendak ke sekolah, pertengkaran tetangga yang tidak kebagian air bersih, gerutuan Emak yang tidak menyelesaikan masalah lagi mengisi keseharianku; “Mak, harga BBM dan gas boleh naik, juga tagihan listrik, air dan telepon, asal Emak tak ikut-ikutan naik darah”. Semua ini akan kunikmati, terus, terus, dan terus…
***
17 Juli 2000, pagi, 56 hari sebelum hari ini, aku bolos kuliah, bukan suatu kesengajaan. Matahari belum lagi menampakkan hidungnya, aku dikejutkan oleh dering telepon, andai aku tidak mengangkatnya. Tapi, aku mudah terbangun meski oleh kepak sayap nyamuk. Aku tidak berani mengingat isi pembicaraan itu sebelum hari ini, pelecehan, dan aku tidak dapat menerimanya. Ia telah memperkosa kupingku dan membuat pendarahan di otakku. Aku menjadi tuli (dan gagu). Aku benci deringan, weker kamar pun kusingkirkan. Aku menjadi manusia yang paling tolol, tidak respon pada lingkungan bahkan pada nyamuk yang menghisap darahku dan setelah ia kenyang baru aku menyadarinya. Keadaanku sungguh tidak menyenangkan, tidak nafsu makan, sulit tidur dan kalau pun aku tertidur selalu mimpi buruk, melamun dan selalu mengurung diri di kamar. Andaikan saja Alexander Graham Bell tak pernah dilahirkan, andai saja tidak terjadi revolusi industri. Dan aku sungguh membenci teknologi analog, juga digital.
Kawan-kawan tidak banyak membantu, meski telah mencoba menghiburku dengan kelakarnya yang menurutku tidak lucu. Pun mereka tertawa terbahak-bahak karenanya, kuharap mereka tidak mentertawakanku. Sebulan lebih aku berdiam diri. Teror demi teror kudapat, bahkan ibu, ayah dan saudara-saudaraku tidak mau mengerti, tetap menerima telpon untukku. Aku sungguh muak.
Siapa yang begitu tega menyakitiku, apa dia tidak tahu bahwa aku merasa sakit dengan tindakannya tersebut?
***